artikelislami.wordpress.com

Sebagian kita sering menganggap bahwa shalat kita merupakan persembahan ataupun hadiah dari kita untuk Allah. Anggapan itu bisa diterima. Namun, tidak salah juga jika kita menganggap bahwa shalat itu merupakan anugerah dari Allah bagi kita.

Kita tidak mungkin bisa shalat kalau bukan dengan taufiq dari Allah. Maka sungguh beruntung orang-orang yang digerakkan Allah untuk mendirikan shalat. Allah telah mengangkat diri yang hina ini ke istana-Nya yang suci di dalam shalat.

Kita sangat memerlukan shalat. Dengan shalat itu, kita dapat mi’raj dan mendekat kepada Allah. Tidak hanya Nabi Muhammad yang mulya saja yang dapat mi’raj kepada Allah. Allah telah memberi kita ‘tangga’ yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sepulangnya dari mi’raj kepada Allah.

Allah memberi kita shalat sebagai ‘tangga’ karena Dia ingin supaya kita semua dapat bertemu dengan-Nya, mengungkapkan segala perkara kita kepada-Nya, mengobati kerinduan kita pada-Nya, dan bermanja-manja dalam dialog suci dengan-Nya. Ingatkah Anda bagaimana sikap Nabi Musa as ketika diajak berdialog oleh Allah di lembah Thuwa yang disucikan? Lembah itu merupakan masjid tempat Nabi Musa as bermanja-manja dihadapan Allah dengan memanjangkan dialognya.

Ibnul Qayim menceritakan: Allah menyeru Adam dengan mengatakan, “Wahai Adam! Janganlah gelisah karena firman-Ku kepadamu: keluarlah dari surga! Surga itu Aku ciptakan untukmu. Tetapi turunlah dulu ke bumi, rendahkanlah dirimu di hadapan-Ku dan pasrahlah dalam mencintai-Ku. Apabila kerinduanmu kepada surga dan kepada-Ku bertambah, datanglah! Niscaya Aku akan memasukkanmu lagi ke dalam surga. Wahai Adam! Apakah engkau berharap bahwa Aku membuatmu kudus, suci dari dosa?”
Kata Adam, “Benar, wahai Tuhanku!”
Kemudian Allah berfirman, “Wahai Adam! Andai Aku membuatmu kudus, membuat anak cucumu suci dari dosa, lantas kepada siapakah Aku berikan kemurahan hati-Ku? Kepada siapakah Aku limpahkan kasih-Ku? Dan untuk siapakah ampunan-Ku? Wahai Adam! Sebuah dosa yang membuatmu menghinakan diri di hadapan Kami, lebih Kami cintai daripada sebuah ketaatan yang engkau bangga-banggakan di hadapan Kami.”

Allah memanggil kita yang telah berlumur dosa ini untuk datang ke istana-Nya yang suci. Dengan sholat yang Allah anugerahkan kepada kita, kita dapat mi’raj dan datang menghadap-Nya untuk mendapat limpahan kasih-sayang dan ampunan dari-Nya. Setiap dosa yang telah kita perbuat itu semestinya cukup untuk memanggil kita agar pulang kepada-Nya. Dan kita akan mendapati-Nya sebagai Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.

Jika Anda pergi ke luar negeri untuk beberapa tahun, dan Anda merasa rindu kepada orangtua Anda, tentu Anda akan mengobati kerinduan Anda dengan sering menelpon orangtua Anda. Jika kerinduan itu sudah semakin memuncak dan tidak bisa lagi diobati dengan komunikasi jarak jauh, mungkin Anda akan memutuskan untuk pulang. Demikianlah yang terjadi pada banyak ulama. Mereka mengobati kerinduan kepada Allah dengan mendirikan sholat. Namun ketika kerinduan itu tak bisa lagi diredam, tak lama kemudian, Anda akan melihat ulama shalih itu ‘pulang’ kepada Allah. Seorang murid yang peka, tentu akan gusar jika gurunya sudah mulai mengutarakan kerinduannya kepada Allah. Mereka khawatir tak lama lagi guru mereka akan ‘pulang’.

 

 Subscribe in a reader

Untuk berlangganan artikel via email, masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner