artikelislami.wordpress.com

Sebagai muslim kita harus melakukan muhasabah (evaluasi diri) sebagaimana diajarkan Sayyidina Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kamu, sebelum kamu dihisab.” Jika kita telah selesai melakukan sesuatu, cobalah periksa diri kita, apakah niatnya sudah benar? Apakah caranya sudah benar dan efektif?

Dengan bermuhasabah, kita akan segera mengetahui kesalahan kita, dan dapat segera mengoreksinya.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)

Jika kita mengalami kegagalan, ambillah hikmahnya. Terkadang Allah memberi kita kegagalan disebabkan hati kita masih kotor. Terkadang kesuksesan lahiriah dapat memperbesar kekotoran itu. Allah tidak ingin kita sukses di dunia, tetapi gagal di akhirat. Allah ingin kita sukses hari ini dan sukses di kemudian hari –di dunia maupun di akhirat. Sebab kesuksesan itu bertingkat-tingkat. Semakin tinggi kesuksesan, semakin berat pula tantangan. Dengan mental yang siap, kita akan dapat sukses dengan langgeng. Bukan kesuksesan sesaat. Oleh sebab itu, kita perlu digembleng dahulu. Kita perlu membersihkan diri kita dari syirik, sombong, dsb. Kita perlu memperbaiki ikhtiar dan memperluas ilmu kita. Mari kita bersihkan kaca jendela rumah kita, agar sewaktu mentari bersinar, cahayanya dapat masuk ke dalam rumah kita dengan terang-benderang.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Beberapa hal yang perlu kita evaluasi::

1.        Kuantitas/jumlah amal shalih/langkah nyata.

2.        Kualitas/mutu amal shalih.

3.        Biaya yang dikeluarkan untuk amal shalih.

4.        Waktu yang digunakan untuk amal shalih.


Sudah berapa banyak langkah nyata yang kita perbuat untuk menggapai kesuksesan dunia/akhirat? Sudah baguskah langkah nyata kita tersebut, atau justeru hanya sekedarnya saja? Sudah berapa banyak biaya yang kita keluarkan? Apakah lebih banyak untuk hal yang produktif dan manfaat, atau justeru lebih banyak untuk konsumtif dan sia-sia belaka? Berapa banyak waktu dan kesempatan yang kita manfaatkan, dan berapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan? Jika keempat hal ini sudah cukup proporsional, maka rencana kerja sudah bisa dikatakan terlaksana dengan baik. Bagaimanapun juga memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tetapi kita memang harus tetap terus meningkatkan kualitas amal kita. Di bawah ini ada tiga point yang perlu kita perhatikan.


IKHTIAR DAN ILMU

Kesuksesan kita tertunda mungkin disebabkan ikhtiar yang kita lakukan tidak/kurang cocok dengan situasi yang ada. Untuk itu kita perlu melakukan trobosan-trobosan, kita perlu melakukan inovasi. Untuk dapat melahirkan inovasi kita perlu memperkaya khazanah keilmuwan kita. Dengan ilmu yang cukup, kita akan siap menggapai sukses dan mempertahankannya; bahkan meningkatkannya.

 

Allah menangguhkan kesuksesan kita bukan disebabkan Allah tidak sayang kepada kita. Justeru sebaliknya Allah sangat sayang kepada kita, itulah sebabnya Allah menangguhkan kesuksesan kita. Sebab Allah yang lebih mengetahui tentang kesiapan kita dalam menghadapi kesuksesan, mempertahankan dan mengisinya. Mempertahankan dan mengisi kesuksesan dengan hal-hal positif itu lebih berat ketimbang menggapai target yang kita rencanakan. Untuk sukses dan mempertahankannya kita perlu kesiapan, baik mental, ilmu, tenaga dan waktu. Jangan pernah berhenti untuk menuntut ilmu, teruslah berikhtiar dengan profesional. Apa pun yang Allah lakukan terhadap kita, yaqinlah bahwa itu adalah pelatihan untuk kita agar kita benar-benar siap untuk sukses.

 

Jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah. Sebab Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dia Menciptakan kita untuk menyembahNya. Dia pula yang mengatur rizqi kita. Dia tidak akan berbuat zhalim kepada makhluqNya. Bahkan Allah memperhatikan rizqi para bakteri. Allah pula yang memberi rizqi kepada paus yang paling besar sekalipun.

 

 

DZIKIR DAN DOA

 

Penangguhan kesuksesan mungkin juga adalah undangan dari Allah untuk kita, agar kita mau datang ke istanaNya. Maka penuhilah undangan Allah yang sangat berharga itu dengan senang hati. Dekatkan diri kita kepadaNya dengan memperbaiki ibadah kita. Tingkatkan kualitas/kuantitas ibadah kita. Perbaiki dzikir dan do’a kita. Sehingga bathin kita menjadi bening dan tenang. Kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati. Dengan hati yang kaya, kita akan dapat mensyukuri setiap perbuatan Allah terhadap kita, sehingga kita dapat menyauk hikmah dari setiap peristiwa dengan lebih arif dan tenang. Harta, pangkat dan jabatan yang tidak diiringi dengan kekayaan hati, tidak akan membuat kita menjadi bahagia. Maka penuhilah undangan Allah, dekatkan diri kita kepadaNya, sehingga kesuksesan yang kita gapai akan lebih bermakna dan membawa kita kepada kesuksesan sejati.

 

Allah menangguhkan kesuksesan kita –padahal kita sudah bersungguh-sungguh dalam berdo’a– mungkin juga disebabkan Allah senang dengan perbuatan kita itu. Allah tidak segera memberikan apa yang kita inginkan mungkin juga disebabkan Allah masih ingin kita mendekatiNya melalui do’a, dan Allah senang dengan kedekatan kita itu. Allah Mahatahu. Mungkin jika kita cepat-cepat diberikan apa yang kita minta, bisa jadi kita malah menjadi jauh dari Allah, ikhtiar jadi kendur, ibadah jadi jarang. Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dia ingin kita selalu dekat denganNya. Dengan dekat kepada Allah itulah hati kita akan menjadi tenang. Allah tidak ingin kita sukses di dunia tetapi hancur binasa di akhirat. Allah memang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Tetapi hamba jarang memahami keinginan Allah yang sebenarnya baik untuk hamba itu sendiri.

 

Orang-orang yang beruntung itu adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling menasehati di dalam kebenaran dan keshabaran. Dan keadaannya setiap hari semakin membaik. Adapun orang yang merugi adalah keadaannya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Sedangkan orang yang hancur binasa adalah orang yang keadaannya hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin.

 

Persiapkanlah diri kita untuk menyambut sukses, sebab kesuksesan itu sudah dekat. Beningkan hati kita, sebab kebeningan hati adalah kesuksesan yang lebih utama daripada kesuksesan lahiriah. Teruslah memperbaiki diri dan ikhtiar. Jangan bosan untuk berdo’a. Sesungguhnya Allah dan RasulNya melihat apa yang kita kerjakan. Andalkan Allah, sebab kesuksesan itu berada di GenggamanNya. Allah yang memberi tanpa diminta, tidak akan mengecewakan orang-orang yang meminta kepadaNya. PintuNya selalu terbuka sebelum kita mengetuknya. Hanya Allah yang dapat memenuhi keinginan kita. Selain Allah, tidak ada yang dapat diandalkan. Maka mintalah AmpunanNya bagi dosa kita dan dosa kedua orangtua kita, serta dosa orang-orang mu`min dan mu`minat (Muhammad: 19). Dan serahkan segala urusan hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamelihat terhadap hamba-hambaNya (Al-Mu`min: 44). Mendekatlah kepadaNya, Dia mengundang kita dengan Kasih-SayangNya. Wallahu a’lam.

PEDULI DAN BERTANGGUNG-JAWAB

Salah satu ciri orang sukses adalah memiliki rasa kepedulian dan tanggung-jawab yang tinggi. Jika Anda bertubuh besar dan kuat sedang berjalan dengan teman Anda yang bertubuh kurus dan lemah. Di jalan Anda berdua bertemu dengan seorang kuli yang sedang membawa barang dengan menggunakan gerobak. Di saat ia berjalan di jalan yang cukup menanjak, Anda melihat kuli itu cukup kesulitan untuk menarik gerobaknya. Siapakah yang seharusnya membantu kuli tersebut, Anda atau teman Anda?

Jika Anda adalah orang yang cukup memiliki ilmu agama. Anda tinggal di lingkungan yang kurang memahami aturan agama. Siapakah yang bertanggung-jawab untuk membimbing mereka?

Jika Anda adalah orang yang cukup kuat di bidang ekonomi. Sedangkan para tetangga Anda adalah orang-orang yang lemah ekonomi. Siapakah yang bertanggung-jawab untuk membantu meningkatkan derajat ekonomi mereka?

Sudahkah Anda memiliki rasa kepedulian dan tanggung-jawab yang tinggi? Pupuklah terus! Pada setiap anugerah dan keni’matan itu terdapat tanggung jawab. Gunakanlah karunia Allah berupa kekuatan di segala bidang untuk mema’murkan bumi ini.

 

 

 Subscribe in a reader

Untuk berlangganan artikel via email, masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner